ADSENSE Link Ads 200 x 90
ADSENSE 336 x 280
Sebuah Share dari seorang sahabat
MEMAKNAI KEHILANGAN
Hakikat kehilangan sejatinya adalah kembalinya sebuah kenikmatan ke sisi Allah. Semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Banyak dari kita yang mengalami kehilangan. Baik itu harta benda maupun kehilangan kenikmatan kenikmatan lain, seperti kehilangan kesehatan yang sedang saya alami.
Seorang istri kehilangan suami atau sebaliknya. Seorang ibu kehilangan anak atau sebaliknya. Kehilangan motor, mobil, rumah, uang, harta benda lainnya, semua adalah ketentuan-Nya. Yang mana jika di hati kita ada kebaikan, Allah berjanji memberikan gantinya dengan yang lebih baik. Dan tidak ada yang lebih tepat janji-Nya kecuali Allah SWT.
Dengan diberikan sakit dalam tubuh saya, Allah menghilangkan rasa sehat sementara. Tapi disisi lain, Allah juga menghilangkan nafsu makan saya yang mungkin sulit dikendalikan. Allah pun memberikan saya madu yang telah lama sekali tak pernah saya konsumsi. Mengganti dengan memakan buah yang baik untuk tubuh. Mengganti menjadi nikmat doa yang mungkin lama tak dijalani. Serta menggerakan seorang Ibu kost menghantarkan 2 gelas teh panas.
Itulah mengapa, leluhur kita (mungkin leluhur saya) ketika ada musibah melanda hal utama yang harus kita lakukan adalah "MEMUJI".
Baca juga Mendidik balita yang Shaleh
Maksudnya adalah, Pujilah Allah, pujilah Allah. Di saat sakit, di saat kehilangan keluarga yang kita cinta, di saat kehilangan harta benda, kita malah diminta memuji. Tidak lain tidak bukan, karena sebab kehilangan itulah banyak kenikmatan kenikmatan yang justru diperoleh jika kita mau sadari.
Jika bukan karena saya sakit, hati saya sulit tergerak mengkonsumsi madu dan buah. Jika bukan karena sakit, takkan ada energi doa dari lisan teman teman. Jika bukan karena sakit saya, ibu kost tak akan memberikan saya 2 gelas teh panas yang itu akan menjadi amal shalihnya, tercatat di Arsy dan menjadi penolongnya di Akhirat. Ternyata begitu besar nikmat di balik nikmat sakit yang saya alami.
Jika seseorang ridho dengan kehilangan, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
Saya mungkin karena sakit jadi kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah di Pameran Solo. Saya hanya tertidur istirahat. Saya berusaha ikhlas dengan ketentuan-Nya. Alhamdulillah, pak Thoni pulang dari jaga stand mengabarkan omset Sabtu kemarin hampir 4 juta dalam 1 hari.
Jilbab Afrakids hampir habis tersisa 5 pcs. Jilbab Hudaifa pun nasibnya sama. Backpack Afrakids pun tersisa 6 pcs. Sedang kaos Afrakids semakin menipis. Janji Allah bergerak dan terbukti.
Memaknai kehilangan setidaknya ada tiga unsur penting yang harus kita fahami. Materi ini saya dapat dari Kang Rendy.
Baca: Wariskan ini pada anak kita
Pertama RIDHO. Karena semua adalah milik Allah. Maka terserah Allah mau mengambilnya kapan pun.
Kedua TAUBAT. Karena masalah yang terjadi pada kita. Musibah yang menimpa kita. Sangat besar kemungkinan karena banyaknya dosa dosa kita. Allah menegur kita dengan kehilangan agar kita kembali ingat pada-Nya.
Ketiga SYUKUR. Tetaplah bersyukur dengan ketentuan-Nya. Seperti disebutkan di atas, karena sebab kehilangan itulah, kita bisa lebih dekat dengan-Nya. Kita bisa bertasbih setiap saat. Kita dapat nikmat berdoa yang selama ini mungkin lama tak kita lakukan. Sebab sakit itu pula, banyak tangan tangan yang ikhlas membantu menjadi jalan amal shalih mereka, tercatat di Arsy.
Wallahu'alam bisshowab
TS
Hakikat kehilangan sejatinya adalah kembalinya sebuah kenikmatan ke sisi Allah. Semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Banyak dari kita yang mengalami kehilangan. Baik itu harta benda maupun kehilangan kenikmatan kenikmatan lain, seperti kehilangan kesehatan yang sedang saya alami.
Seorang istri kehilangan suami atau sebaliknya. Seorang ibu kehilangan anak atau sebaliknya. Kehilangan motor, mobil, rumah, uang, harta benda lainnya, semua adalah ketentuan-Nya. Yang mana jika di hati kita ada kebaikan, Allah berjanji memberikan gantinya dengan yang lebih baik. Dan tidak ada yang lebih tepat janji-Nya kecuali Allah SWT.
Dengan diberikan sakit dalam tubuh saya, Allah menghilangkan rasa sehat sementara. Tapi disisi lain, Allah juga menghilangkan nafsu makan saya yang mungkin sulit dikendalikan. Allah pun memberikan saya madu yang telah lama sekali tak pernah saya konsumsi. Mengganti dengan memakan buah yang baik untuk tubuh. Mengganti menjadi nikmat doa yang mungkin lama tak dijalani. Serta menggerakan seorang Ibu kost menghantarkan 2 gelas teh panas.
Itulah mengapa, leluhur kita (mungkin leluhur saya) ketika ada musibah melanda hal utama yang harus kita lakukan adalah "MEMUJI".
Baca juga Mendidik balita yang Shaleh
Maksudnya adalah, Pujilah Allah, pujilah Allah. Di saat sakit, di saat kehilangan keluarga yang kita cinta, di saat kehilangan harta benda, kita malah diminta memuji. Tidak lain tidak bukan, karena sebab kehilangan itulah banyak kenikmatan kenikmatan yang justru diperoleh jika kita mau sadari.
Jika bukan karena saya sakit, hati saya sulit tergerak mengkonsumsi madu dan buah. Jika bukan karena sakit, takkan ada energi doa dari lisan teman teman. Jika bukan karena sakit saya, ibu kost tak akan memberikan saya 2 gelas teh panas yang itu akan menjadi amal shalihnya, tercatat di Arsy dan menjadi penolongnya di Akhirat. Ternyata begitu besar nikmat di balik nikmat sakit yang saya alami.
Jika seseorang ridho dengan kehilangan, maka Allah akan ganti dengan yang lebih baik.
Saya mungkin karena sakit jadi kehilangan kesempatan untuk mencari nafkah di Pameran Solo. Saya hanya tertidur istirahat. Saya berusaha ikhlas dengan ketentuan-Nya. Alhamdulillah, pak Thoni pulang dari jaga stand mengabarkan omset Sabtu kemarin hampir 4 juta dalam 1 hari.
Jilbab Afrakids hampir habis tersisa 5 pcs. Jilbab Hudaifa pun nasibnya sama. Backpack Afrakids pun tersisa 6 pcs. Sedang kaos Afrakids semakin menipis. Janji Allah bergerak dan terbukti.
Memaknai kehilangan setidaknya ada tiga unsur penting yang harus kita fahami. Materi ini saya dapat dari Kang Rendy.
Baca: Wariskan ini pada anak kita
Pertama RIDHO. Karena semua adalah milik Allah. Maka terserah Allah mau mengambilnya kapan pun.
Kedua TAUBAT. Karena masalah yang terjadi pada kita. Musibah yang menimpa kita. Sangat besar kemungkinan karena banyaknya dosa dosa kita. Allah menegur kita dengan kehilangan agar kita kembali ingat pada-Nya.
Ketiga SYUKUR. Tetaplah bersyukur dengan ketentuan-Nya. Seperti disebutkan di atas, karena sebab kehilangan itulah, kita bisa lebih dekat dengan-Nya. Kita bisa bertasbih setiap saat. Kita dapat nikmat berdoa yang selama ini mungkin lama tak kita lakukan. Sebab sakit itu pula, banyak tangan tangan yang ikhlas membantu menjadi jalan amal shalih mereka, tercatat di Arsy.
Wallahu'alam bisshowab
TS

0 Response to " MEMAKNAI KEHILANGAN "
Posting Komentar